Categories
Gaming

[REVIEW] Game Little Nightmares II — Lebih Serem dari pada Perintisnya !!!

Stephencresswell – Masih fresh dalam daya ingat mengenai sebuah games indie fantastis yang menyajikan tindakan aneh, unik, tapi juga menakutkan. Yap, games itu ialah Little Nightmares, sebuah kreasi bikinan Tersier Studio dan peluncuran Bandai Namco yang berisi cerita creepy yang demikian aneh, tetapi juga buat ingin tahu. Kenyataannya, games itu pernah menjadi satu diantara games seram yang terbanyak dimainkan pada tahun 2017 sampai 2020.

Tidak sampai di sana, pada 11 Februari 2021 lalu, Bandai Namco kembali melaunching games dengan judul yang serupa, yaitu Little Nightmares II. Games ini dapat dimainkan di konsol PS4, PS5, Xbox One, Xbox Seri X, Nintendo Switch, dan sudah pasti PC Windows. Steam dalam lamannya sudah jual games ini pada harga sah Rp239 ribu untuk versus standard dan Rp299 ribu untuk versus deluxe edition.

Maka kamu yang ingin tahu dengan kreasi fantastis ini, sebaiknya baca ulasan Little Nightmares II berikut ini. Yok, dibaca!

1. Cerita pertemanan di dunia mimpi

Dalam games ini, kita akan mainkan watak namanya Mono, seorang anak lelaki yang kenakan kantong kertas di kepalanya. Bila dibanding dengan watak di seri pertama kalinya, figur Mono di sini tampil benar-benar berlainan daripada Six. Ya, Six sendiri sebagai figur khusus dalam Little Nightmares seri pertama kali yang sama berusaha di tengah-tengah dunia mimpi.

Tetapi, bukannya menggunakan baju seperti Six, Mono malah dilukiskan dalam penampilan yang cukup creepy. Walau terlihat aneh dan menakutkan, Mono rupanya figur yang paling setia teman dan tidak enggan menolong siapa yang memerlukan. Nach, bila disederhanakan, plot narasi dalam games ini bergelut di dunia mimpi yang dirasakan oleh Mono.

Pada umumnya, apa yang dirasakan Mono dan Six dalam mimpinya sebagai cerita pertemanan yang menyengaja ditonjolkan oleh developer. Berkali-kali Six terjerat dan dicuri oleh hantu penghuni alam mimpi, berkali-kali juga Mono harus berjibaku selamatkannya. Antiknya, kebersama-samaan dan kerja-sama yang bagus dari ke-2 nya sudah jadi proses permainan yang cukup pakem.

Kemungkinan plot dan alur cerita jenis ini akan dipandang dark dan tidak gampang diterima untuk semua kelompok gamer. Namun, lepas dari elemen aneh dan kesadisannya, pokok narasi malah mengutamakan pada hubungan pertemanan dan perjuangan dari Mono dan Six. Apa ceritanya memiliki sifat linear? Tidak karena dalam beberapa hal, pemainlah yang tentukan keseluruhnya plot ceritanya.

Baca Juga : 10 Watak Cookie Run Berdasarkan Buah-buahan di Dunia Real !!

Dalam kata lain, status prekuel dan sekuel tidak demikian penting untuk dijadikan Little Nightmares II. Kebalikannya, kita sebagai gamer dibebaskan untuk mempunyai dan membuat pemikiran sendiri berkenaan games ini. Itu penyebabnya, kesan dan hati dari tiap-tiap gamer dapat benar-benar berlainan sesudah mainkan cerita Mono keseluruhannya.

2. Terlihat lebih menakutkan

Little Nightmares II Stephencresswell

Sesudah penulis memainkan, terlihat jika Little Nightmares II mempunyai gameplay yang lebih dark dan menakutkan. Di sini, Mono dapat memakai beragam jenis alat untuk merusak musuh-musuhnya. Dimulai dari kapak, shotgun, perlengkapan dapur, dan lain-lain, semua menjadi alat untuk meremukkan kepala musuh kita. Rasanya penulis tak pernah mendapati kebrutalan jenis ini di seri pertama kalinya.

Lalu, lingkungan dibikin lebih menakutkan. Beberapa lawan akan serang kita secara tidak kalah beringas. Bukannya menghindari, kita malah akan gerakkan Mono untuk selekasnya menumpas makhluk-makhluk aneh itu. Belum juga ada banyak sekali perangkap yang menyebar di dunia mimpi. Beberapa macam perangkap juga berkesan kabur dan benar-benar mematikan—oke, yang bernama perangkap memang seharusnya kabur.

Oh, ya, stealth atau diam-diam ada saatnya kerap kita kerjakan. Masalahnya tidak semua lawan dapat dihancurkan demikian saja. Kita tidak pernah tahu mengenai apa yang akan terjadi dan ini cukup dirasakan mendebarkan. Tetapi, malah disini point khusus yang ingin dikatakan dalam Little Nightmares II. Dia usaha menjerat kita supaya semakin terlarut dalam alam mimpi yang tidak tentu.

Bagaimana dengan puzzle-nya? Untuk penulis individu, puzzle atau teka-teki dalam games ini terhitung susah-susah gampang. Tujuannya, kita dituntut untuk pecahkan puzzle tanpa panduan. Searah dengan bermainnya, jawaban dari teka-teki itu juga dapat diperpecahkan. Sisi yang paling menyebalkan ialah di saat pecahkan puzzle perangkap yang ujungnya membuat Mono meninggal secara percuma.

3. Grafis lebih baik dan hidup daripada seri pertama kalinya

Spesifikasi PC untuk Memainkan Little Nightmares II Stephencresswell

Little Nightmares II masih memakai penampilan 2,5D yang serupa dengan perintisnya. Tetapi, kualitas visual yang didatangkan terlihat lebih detil, tajam, dan hidup. Sudah pasti kesan-kesan dark didapat pada saat kita menyaksikan grafisnya langsung. Duet dari Mono dan Six dapat diuraikan dengan lentur lewat penampilan yang tidak kalah bagus.

Developer dapat memberi detil yang lumayan tinggi ke beragam komponen, diawali dari kibasan mantel punya Mono, pergerakan buku dalam rack, sampai beragam jenis pergerakan lawan yang tampil mengagumkan. Ini sekalian menunjukkan jika penampilan 2,5D dapat bicara banyak pada saat dilawan masalah grafis.

Oh, ya, kualitas grafis dalam Little Nightmares II didukung oleh Unreal Engine 4 yang dikenali penerangannya yang alami. Tetapi, satu kali lagi, penampilan dalam seri kali ini berkesan gelap dan tidak kaya warna. Ini sedikit berbeda dengan seri pertama kalinya karena watak Six dapat diperlihatkan lebih bersinar di tengah-tengah dunia mimpi yang gelap.

4. Musik tidak kalah keren

Little Nightmares 2: Apakah Bisa Co-Op? - Stephencresswell

Akan susah untuk banyak games jenis ini bila tidak disokong dengan kualitas audio yang bagus. Untungnya, Little Nightmares II datang dengan kualitas audio hebat. Ya, musik dan suara yang lain diperlihatkan dalam games ini benar-benar masuk dengan plot dan gameplay-nya. Kita akan dengar alunan musik yang cukup mendebarkan, tetapi tidak dalam ukuran lebai.

Malah mekanisme musikal didatangkan secara halus, misteri, dan tenang. Itu penyebabnya, kesan bermain jadi lebih intensif dan creepy. Tidak cukup sampai di sana, Tobias Lilja sebagai komposer sukses dalam tampilkan musikal yang tidak berbelit-belit, mengena dalam telinga, dan munculkan kesan dunia mimpi yang hidup.

Bagaimana dengan beberapa suara simpatisan yang lain? Sama bagusnya! Kamu akan dengar derak kayu, pintu, pembicaraan, dan langkah kaki yang jernih dan jelas dalam telinga. Merusak pintu kayu, misalkan, akan kedengar serupa dengan suara asli ketika kita merusak atau menggedor pintu di dunia riil. Terutama bila memakai earphone dan bermain pada malam hari, bisa jadi musiknya akan terikut di mimpi kita.

5. Penerus yang prima

Little Nightmares II - Launch Trailer - Stephencresswell

Untuk penulis, Little Nightmares II mampu tampil prima bila dibanding dengan perintisnya. Pertemanan Mono dan Six yang tergambar dengan intensif di dunia mimpi jadi plot yang kuat sekalian mencekam. Di lain sisi, gameplay kelas tinggi bisa juga didatangkan oleh Tersier Studio sebagai salah satunya harga jual yang paling menonjol.

Nach, sisi yang tidak kalah epik ialah masalah grafis dan audionya. Kamu harus memainkan langsung untuk dapat nikmati bagaimana kelamnya dunia mimpi yang dirasakan oleh Mono dan Six. Walau durasi waktu permainan dapat disebutkan cukup pendek, ini tidak jadi batu sandungan benar-benar karena kita masih memperoleh kepuasan saat bermain.

Maka penulis tidak enggan memberi score 5/5 untuk Little Nightmares II. Pada harga yang lumayan murah di Steam, kamu dapat selekasnya beli dan memainkan saat malam hari. Bila kamu memang sukai games seram yang memiliki bobot, aneh, punyai plot kuat, dan punyai visual dan audio mempesona, Little Nightmares II jawabnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *